2012-12-23

PROPOSAL PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI STRATEGI SCRAMBLE

OPTIMALISASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI STRATEGI SCRAMBLE UNTUK MENINGKATKAN
KEAKTIFAN DAN MOTIVASI DALAM BELAJAR
KELAS VIIIC SMP N 2 BANYUDONO
TAHUN AJARAN 2010/2011

PROPOSAL
Untuk memenuhi tugas akhir Bahasa Indonesia







TAUFIK FAJAR GUMILANG
A410100023


PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2011





 
DAFTAR ISI


JUDUL.................................................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................... ii
BAB 1        PENDAHULUAN................................................................................1
A.    Latar Belakang Masalah................................................................   1
B.     Rumusan Masalah..........................................................................  6
C.     Tujuan Umum................................................................................  6
D.    Manfaat Penelitian.........................................................................   6
BAB 2        KAJIAN TEORI...................................................................................8
A.    Pembahasan Teori..........................................................................  8
1.      Keaktifan Belajar Matematika.................................................   8
2.      Strategi Pembelajaran Scramble..............................................  11
3.    Penerapan Strategi Scramble pada Pembelajaran Matematika Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV).................................................................................. 12
4. Materi Matematika Pokok Bahasa Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV)................................................................... 12
B.     Hasil Penelitian yang Relevan.......................................................    13
C.     Kerangka Berpikir......................................................................... 14
D.    Hipotesis Penelitian.......................................................................  14
BAB 3        METODE PENELITIAN.................................................................... 15
A.    Jenis Penelitian..............................................................................  15
B.     Tempat dan Waktu Penelitian........................................................  16
C.     Subyek Penelitian...........................................................................17
D.    Rancangan Penelitian.....................................................................  17
E.     Metode Pengumpulan Data...........................................................  23
F.      Validitas Data................................................................................ 24
G.    Teknik Analisis Data.....................................................................  26
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................    27
LAMPIRAN.......................................................................................................   28





 
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Piagiet (2000: 1) menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengaja dirancangkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Rahardjito (2002: 11) juga menyatakan proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu kepenerima pesan. Matematika sebagai salah satu mata pelajaran dasar pada setiap jenjang pendidikan formal yang memegang peran penting. Suparno (2009: 13) menyatakan peningkatan mutu pendidikan persekolahan sangat ditentukan oleh kemampuan kepala sekolah dalam memperdayakan staff pengajar dan anggota komunitasnya secara keseluruhan. Matematika merupakan alat yang dapat memperjelas dan menyederhanakan suatu keadaan atau situasi melalui abstrak, idealisasi, atau generalisasi untuk suatu studi ataupun pemecahan masalah. Hal ini secara esensial berkaitan dengan representasi hubungan di dalam dunia dan memanipulasi mereka. Pentingnya matematika tidak terlepas dari perannya dalam segala jenis dimensi kehidupan. Oleh karena itu, pelajaran matematika diberbagai jenjang pendidikan formal perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh terutama dalam menentukan strategi belajar mengajar.
Proses pembelajaran tersusun atas sejumlah komponen atau unsur yang saling berkaitan satu sama lainnya. Peranan guru dalam mengajar sangat penting. Interaksi antara guru dan peserta didik pada saat proses belajar mengajar memegang peranan penting dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Guru dituntut mampu menciptakan situasi pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan proses pembelajaran, khususnya pembelajaran matematika. Syafarrudin (2002: 46) menyatakan keberadaan manajemen mutu terpadu dalam pendidikan bukanlah suatu strategi manajemen yang tiba-tiba muncul, tetapi telah dilatarbelakangi perkembangan scientific management, dan perkembangan dunia industri di Jepang.
Matematika merupakan ilmu yang bertujuan untuk mendidik anak agar berfikir logis, krisis, sistematis, memiliki sifat obyektif, jujur, disiplin dalam memecahkan permasalahan baik dalam bidang matematika, bidang lain, maupun dalam kehidupan sehari-hari, sehingga matematika perlu dipelajari. Namun kenyataan di lapangan, pembelajaran matematika belum sesuai dengan yang diharapkan. Banyak faktor yang melatarbelakangi hal tersebut, diantaranya kurangnya keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika serta penggunaan metode dalam pembelajaran.
Kegiatan pembelajaran harus dapat memberikan dan mendorong seluas-luasnya keaktifan ketidaktepatan pemilihan pendekatan atau strategi pembelajaran sangat memungkinkan keaktifan siswa menjadi tidak tumbuh subur, bahkan menjadi justru kehilangan keaktifannya.
Keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika di kelas masih rendah. Keaktifan siswa merupakan faktor yang mempengaruhi prestasi belajar matematika siswa. Minat merupakan faktor utama untuk menentukan derajat keaktifan belajar siswa. “no learning takes place with out attention”, yang maksutnya bahwa suatu pelajaran tidak akan berlangsung tanpa adanya perhatian dari siswa. Proses belajar yang bermakna adalah proses belajar yang melibatkan berbagai aktivitas para siswa. Untuk itu guru harus berupaya untuk mengaktifkan kegiatan belajar mengajar tersebut”. Selanjutnya tingkat keaktifan belajar siswa dalam suatu proses pembelajaran juga merupakan tolak ukur dari kualitas pembelajaran itu sendiri.  Keberhasilan seorang pengajar akan terjamin, jika pengajar itu dapat mengajak muridnya mengerti suatu masalah melalui semua tahap proses belajar, karena dengan cara begitu murid akan memahami hal yang diajarkan. Dengan begitu dalam proses pembeajaran pengajar harus dapat menggunakan model-model dan pendekatan mengajar yang dapat menjamin pembelajaran berhasil sesuai yang direncanakan.
Berdasarkan hasil observasi pembelajaran matematika dikelas VIII C SMPN 2 Banyudono dengan jumlah siswa 33 orang pada hari rabu, 6 april 2011 ditemukan 5 kesenjangan.
1.  Siswa jarang bertanya kepada guru mengenai materi pelajaran yang telah disampaikan guru.
2.  Siswa enggan mengerjakan soal dipapan tulis. Siswa mau mengerjakan soal dipapan tulis hanya ketika ditunjuk oleh guru.
3.  Siswa jarang mengemukakan ide atau gagasan.
4.  Kerjasama siswa dalam menyelesaikan soal latihan masih kurang.
5.  Sebagian siswa masih ada yang bersenda gurau dan kurang memperhatikan penjelasan guru.
Kesenjangan yang ditemukan dikelas VIII C disebabkan.
1.  Siswa malu untuk bertanya dan belum memahami materi yang diterangkan oleh guru.
2.  Strategi pembelajaran yang digunakan masih konvensional dan siswa merasa takut salah untuk mengerjakan soal dipapan tulis.
3.  Guru jarang menggunakan strategi pembelajaran yang mendorong siswa untuk mengembangkan pola pikir dan mengemukakan ide.
4.  Siswa lebih senang mengerjakan soal secara individual.
5.  Strategi yang digunakan oleh guru cenderung monoton dan kurang inovatif.
Untuk mengatasi kesenjangan yang ditemukan dikelas VIII C, maka diperlukan strategi pembelajaran yang tepat, sehingga siswa akan lebih aktif dan senang untuk belajar matematika. Strategi yang digunakan untuk mengatasi kesenjangan yang ditemukan dikelas VIII C yaitu strategi scramble. Strategi scramble digunakan untuk meningkatkan keaktifan belajar matematika siswa.
Ada anggapan bahwa pelajaran lebih berhasil dengan sistimalisasi pelajaran. Bahan yang harus dipelajari disusun baik-baik, diberikan penjelasan yang cermat apa yang harus dilakukan anak-anak dengan maksut agar mereka bekerja dengan lebih efektif. Buku-buku pelajaran diberi pertanyaan-pertanyaan, ikhtisar-ikhtisar, tugas-tugas dengan tujuan itu.  Akan tetapi dengan sistematisasi itu saja hasil belajar sering mengecewakan bila diukur menurut kriterium belajar yang sesungguhnya.
Keaktifan siswa dalam belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Metode konvensional yang banyak dijumpai dalam pembelajaran mengakibatkan siswa pasif karena sebagian besar proses pembelajaran didominasi oleh guru, siswa hanya mendengarkan dan mencatat yang pokok dari penyampaian guru sehingga keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar hampir tidak ada.
Rendahnya keaktifan siswa juga dialami oleh siswa kelas VIIIC di SMP N 2 Banyudono. Faktor yang menyebabkan rendahnya keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika di SMP N Banyudono adalah guru matematika yang kurang menarik dalam memberikan materi sehingga membuat siswa menjadi bosan dengan pelajaran matematika, kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi aktif, menganggap matematika adalah suatu yang sudah jadi, penyampaian materi cenderung monoton dan kurang bervariasi, dan dominasi guru dalam proses pembelajaran masih tinggi pengaruh siswa lain yang malas belajar. Akibatnya keaktifan belajar matematika kurang optimal serta perilaku belajar yang lain seperti suasana kelas yang menyenangkan dalam pembelajaran matematika hampir tidak tampak.
Keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika diperlukan agar siswa dapat menguasai materi serta memperoleh prestasi belajar yang tinggi. Matematika tidak dapat dikuasai hanya dengan mendengarkan dan mencatat materi saja. Namun, diperlukan latihan yang banyak, mau bertanya untuk memahami materi, aktif mengerjakan PR, saling bekerja sama untuk menyelesaikan soal latihan.
Strategi pembelajaran scramble adalah suatu strategi dengan menggunakan penekanan latihan soal yang dikerjakan secara berkelompok. Dalam strategi pembelajaran ini perlu adanya kerjasama antara anggota kelompok untuk saling membantu teman sekelompoknya, sehingga dapat berfikir kritis, siswa dilatih untuk mengemukakan ide kepada teman se kelompok. Strategi ini dilaksanakan dengan membagikan kartu soal dan kartu jawaban yang disertai dengan alternatif jawaban yang tersedia. Siswa diharapkan mampu mencari jawaban dan cara penyelesaian dari soal yang ada, sehingga siswa dituntut lebih aktif secara langsung dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, siswa yang belajar tidak hanya mendengarkan guru menerangkan saja. Namun, diperlukan keaktifan siswa didalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, proses pembelajaran disekolah dengan menerapkan strategi pembelajaran scramble dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika.
Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka ini dapat melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi interaksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisasi. Siswa dituntut untuk berimprovisasi mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban, jawaban siswa beragam. Selanjutnya siswa juga diminta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Dengan demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentuk pola pikir, keterbukaan, dan ragam berpikir. Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar, diagram, tabel), kembangkan permasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa, kaitannya dengan materi selanjutnya, siapkan rencana bimbingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri). Sintaknya adalah menyajikan masalah, pengorganisasian pembelajaran, perhatikan dan catat respon siswa, bimbingan dan pengarahan, membuat kesimpulan.
Keberhasilan proses belajar mengajar pada pembelajaran matematika dapat diukur dari keberhasilan siswa mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut. Dalam proses pembelajaran, keaktifan siswa terhadap pelajaran akan berdampak pada prestasi belajar siswa.
Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Optimalisasi Pembelajaran Matematika Melalui Strategi Scramble untuk Meningkatkan Keaktifan dan Motivasi dalam Belajar (Kelas VIIIC SMP N 2 Banyudono, Tahun Ajaran 2010/2011)”.

B.     Rumusan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan “Adakah peningkatan keaktifan belajar siswa setelah optimalisasi pembelajaran matematika melalui strategi scramble?”

C.    Tujuan Umum
Tujuan penelitian secara umum ditujukan untuk mendeskripsikan peningkatan keaktifan belajar matematika siswa setelah optimalisasi pembelajaran matematika melalui strategi scramble.

D.    Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teoretis
Manfaat penelitian ini adalah pengembangan ilmu terutama pada peningkatan kualitas pembelajaran matematika melalui strategi scramble, memperkaya strategi pembelajaran, dan sebagai bentuk inovasi pembelajaran menuju pembelajaran yang aktif dan menyenangkan.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi Siswa
1)      Siswa berpartisipasi aktif dalam proses belajar mengajar matematika dengan menggunakan strategi pembelajaran scramble.
2)      Siswa memahami dan dapat menyelesaikan soal yang diberikan guru.
b.      Bagi Guru
1)      Guru mampu menerapkan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan.
2)      Mengubah model pembelajaran yang bersifat konvensional.
3)      Guru mampu memecahkan masalah yang dihadapi dan untuk meningkatkan kemampuan reflektif.
c.       Bagi Sekolah
Manfaat untuk sekolah adalah untuk perbaikan keseluruhan sistem pembelajaran, peningkatan mutu sekolah khususnya pembelajaran matematika, mengembangkan profesionalisme guru.
















BAB II
Kajian Teori

A.    Pembahasan Teori
1.      Keaktifan Belajar Matematika
a.       Hakikat Matematika
Matematika adalah simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan bab-bab kuantitatif dan keruangan, sedang fungsi teoritis adalah untuk memudahkan berfikir. Penalaran induktif yang didasarkan fakta dan gejala yang muncul untuk sampai pada pikiran tertentu. Selanjutnya dikemukakan apabila matematika dipandang sebagai struktur dari hubungan-hubungan maka simbol-simbol formal diperlukan untuk membantu memanipulasi aturan-aturan yang beroperasi didalam struktur-struktur. Soedjadi berpendapat bahwa simbol-simbol didalam matematika umumnya masih kosong dari arti, sehingga dapat diberi arti sesuai dengan lingkup fungsinya.
Soedjadi (Karmawati, 2008 : 1) menngemukakan bahwa ada beberapa hakikat matematika berdasarkan sudut pandang pembuatnya.
1)      Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisasi secara sistematis.
2)      Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi.
3)      Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan.
4)      Matematika adalah pengetahuan fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk.
5)      Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik.
6)      Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian matematika adalah bahasa simbolis dan bahasa universal dengan ciri utamanya penalaran deduktif, tetapi tidak merupakan cara bernalar induktif, sehingga memudahkan manusia untuk berpikir.
b.      Hakikat Belajar
Sudjana (2005: 5) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan diri seseorang. Belajar hanya mungkin terjadi jika siswa aktif mengalami sendiri. Belajar adalah suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk. Perubahan terjadi melalui latihan atas pengalaman dalam periode waktu cukup panjang. Perubahan ini disebabkan oleh motivasi, kelelahan, adaptasi, ketajaman perhatian, biasanya hanya berlangsung sementara.
Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Prinsip-prinsip belajar :
1)      Perhatian dan motivasi belajar
2)      Keaktifan belajar
3)      Keterlibatan dalam belajar
4)      Pengulangan belajar
5)      Tantangan, semangat
6)      Adanya perbedaan perilaku individu dalam belajar.
Faktor-faktor kondisional yang mempengaruhi belajar :
1)      Faktor kegiatan, pengguna, dan ulangan
2)      Belajar memerlukan latihan
3)      Belajar hendaknya dilakukan dalam suasana menyenangkan
4)      Siswa yang belajar perlu mengetahui apakah ia berhasil atau gagal dalam belajarnya
5)      Faktor asosiasi
6)      Faktor kesiapan belajar
7)      Faktor minat dan usaha
8)      Faktor-faktor sosiologis
9)      Faktor intelegensi
c.       Hakikat Keaktifan
Keaktifan adalah kegiatan atau aktivitas atau segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik maupun non fisik. Keaktifan yang dimaksutkan disini penekanannya adalah pada peserta didik (siswa), sebab dengan adanya keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran akan tercipta situasi belajar aktif.
   Keaktifan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran dapat dilaksanakan manakala.
1)      Pembelajaran yang dilakukan lebih berpusat pada peserta didik
2)      Guru berperan sebagai pembimbing supaya terjadi pengalaman dalam belajar
3)      Tujuan kegiatan pembelajaran tercapai kemampuan minimal peserta didik (kompetensi dasar)
4)      Pengelolaan kegiatan pembelajaran lebih menekankan pada kreatifitas peserta didik, meningkatkan kemampuan minimalnya, dan mencapai peserta didik yang kreatif serta mampu menguasai konsep-konsep.
5)      Melakukan pengukuran secara kontinyu dalam berbagai aspek pengetahuan, sikap, dan ketrampilan.
Indikator yang digunakan sebagai tolak ukur tercapainya keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar.
1)      Keberanian untuk mengajukan pertanyaan
2)      Mengerjakan soal latihan didepan kelas
3)      Mengemukakan ide
4)      Menjawab pertanyaan
5)      Menyanggah atau menyetujui ide teman
6)      Perhatian siswa terhadap penjelasan guru
7)      Kerjasama dalam kelompok
8)      Saling membantu dan menyelesaikan masalah
d.      Konsep Keaktifan Belajar Matematika
Keaktifan belajar matematika yang dimaksud adalah kemampuan siswa untuk bekerjasama, berdiskusi, menyampaikan materi kepada teman sebaya, bertanya, mejawab pertanyaan, menanggapi, mengerjakan soal dan yang paling penting adalah mengkomunikasikan jawaban kepada temannya pada waktu pembelajaran matematika.
2.      Strategi Pembelajaran Scramble
a.       Hakikat Pembelajaran
Pasal 1 butir 20 UU Nomor 20 tahun 2003  tentang sisdiknas menyebutkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam konsep tersebut mengandung 5 konsep, yakni interaksi, peserta didik, pendidik, sumber belajar dan lingkungan belajar.
Pembelajaran berupaya mengubah masukan berupa siswa yang belum terdidik, menjadi siswa yang terdidik, siswa yang belum memiliki pengetahuan tentang sesuatu, menjadi siswa yang memiliki pengetahuan.
b.      Konsep Strategi Scramble
Strategi diartikan sebagai suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam rangka mencapai sasaran yang telah ditentukan. Strategi mengajar adalah tindakan nyata dari guru atau praktek guru melaksanakan pengajaran melalui cara tertentu, yang dinilai lebih efektif dan lebih efisien.
Scramble adalah strategi pembelajaran yang membutuhkan kerjasama antar anggota kelompok dengan membagi lembar kerja yang berisikan pertanyaan pada akhir pertemuan dan harus dijawab oleh siswa.
Kelebihan dan kekurangan strategi Scramble :
1)      Kelebihan strategi Scramble
a)      Memeudahkan siswa mencari jawaban
b)      Siswa yang aktif dapat berfikir kritis dibandingkan siswa yang pasif dan mencari penyelesaian soal
c)      Mendorong siswa untuk mengerjakan soal-soal
2)      Kekurangan strategi Scramble
Siswa yang pasif kurang dapat berfikir kritis
3.      Penerapan Strategi Scramble pada Pembelajaran Matematika Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV)
Penerapan strategi scramble dalam pembelajaran matematika merupakan suatu penerapan strategi pembelajaran matematika yang digunakan untuk mengoptimalkan kemampuan siswa melalui diskusi kelompok, sehingga mengaktifkan siswa untuk aktif bertanya, mengemukakan ide pada teman sekelompoknya atau kelompok lain.
4.      Materi Matematika Pokok Bahasa Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV)
a.       Persamaan Linear Dua Variabel (PLDV)
Persamaan Linear Dua Variabel (PLDV) adalah suatu persaman yang memiliki dua variabel yang mana masing-masing variabel (pangkat) berpangkat satu.
b.      Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV)
Pengertian Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) adalah sistem persamaan linear yang memuat 2 variabel untuk mencari penyelesaian persekutuannya. Dua persamaan linear dua variabel yang saling terkait dinamakan sistem persamaan linear dua variabel atau secara singkat sistem persamaan linear (SPL).
Perbedaan antara persamaan linear dua variabel dan sistem persamaan linear dua variabel
PLDV
SPLDV
Persamaan yang mandiri (penyelesaian tidak terkait dengan PLDV yang lain)
Terdiri dari dua persamaan linear dua variabel yang saling terkait
Penyelesaian tak terhingga
Mempunyai satu pasang nilai sebagai penyelesaian
c.       Menentukan Penyelesaian Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV)
Untuk menyelesaikan sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV) dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu dengan metode substitusi, metode eliminasi, dan metode grafik.
1)      Metode substitusi
Substitusi artinya mengganti, yaitu menggantikan variabel yang kita pilih misal pada persamaan dan disusun untuk mengganti variabel sejenis pada persamaan kedua.
2)      Metode eliminasi
Metode penyamaan adalah metode penyamaan penyebut dari kedua sistem.
3)      Metode grafik
Cara ini dilakukan dengan menggambar grafik persamaan-persamaan, kemudian menentukan koordinat titik perpotongannya.
B.     Hasil Penelitian yang Relevan
            Dwi kartika (2004: 22) menyimpulkan terdapat perbedaan prestasi belajar matematika yang signifikasi antar siswa yang diajar dengan model pembelajaran Team Assistend Individualization (TAI) dan model konvensional ditinjau dari perbedaan keaktifan belajar siswa.
            Strategi Scramble sangat tepat untuk membangkitkan keaktifan siswa dikelas. Strategi ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dalam kelompok, mengemukakan pendapat dalam kelompok ahli, memberikan kesempatan berpendapat kepada teman dalam kelompok. Strategi ini menggunakan konsep kooperatif dalam menumbuhkan keaktifan siswa. Melalui strategi ini mau tidak mau semua siswa ikut serta dalam pembelajaran secara aktif. Strategi Scramble diharapkan dapat meningkatkan keaktifan siswa.
C.    Kerangka Berpikir
            Prestasi belajar merupakan tolak ukur dari tingkat kecerdasan seseorang maupun masyarakat. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar seseorang diantaranya adalah strategi pembelajaran yang digunakan guru dan keaktifan belajar siswa.
            Keaktifan siswa yang mudah dapat diengaruhi oleh penggunaan strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru. Peneliti menggunakan strategi pembelajaran Scramble untuk mengatasi kurangnya keaktifan siswa. Stategi Scramble digunakan untuk membangkitkan semangat siswa dalam belajar matematika, sehingga siswa akan menjadi lebih aktif saat pembelajaran matematika.









BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan desain penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk memberikan informasi bagaimana tindakan yang tepat untuk meningkatkan keaktifan siswa. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada tindakan-tindakan sebagai usaha untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar matematika. Suroso (2009: 33-34) menyatakan bentuk-bentuk PTK ada empat yaitu :
1.    Guru sebagai peneliti. Bertujuan untuk meningkatkan pembelajaran dikelas, dimana guru terlibat secara peneuh dalam perencanaan, aksi (tindakan), dan memecahkan permasalahan pembelajaran sendiri.
2.    Penelitian kolaboratif. Bertujuan untuk meningkatkan praktik pembelajaran, dimana guru melibatkan beberapa pihak, baik guru, kepala sekolah, maupun dosen secara serempak.
3.    Simultan terintegrasi. Bertujuan memecahkan persoalan praktis dan menghasilkan pengetahuan yang ilmiah dalam bidang pembelajaran di kelas. Guru dilibatkan dalam PTK dalam hal aksi dan refleksi PTK di kelas.
4.    Administrasi sekolah eksperimental. Guru tidak dilibatkan dalam perencanaan, aksi dan refleksi terhadap pembelajarannya sendiri di dalam kelas PTK. PTK ini lebih menekankan dampak kebijakan dalam praktik.
Penelitian ini dilakukan secara kolaboratif antara kepala sekolah, guru mata pelajaran dan peneliti. Pada awal penelitian, pihak yang terlibat pada kegiatan ini mendiskusikan dan menentukan tujuan penelitian, permasalahan, dan rencana tindakan.
Pengamatan selama tindakan penelitian dilakukan oleh peneliti yang di bantu rekan sesama observer. Pengamatan dilakukan berdasarkan pedoman observasi yang disiapkan. Kejadian-kejadian penting selama proses tindakan berlangsung yang belum termuat dalam observasi dibuat pada catatan lapangan.
Kegiatan refleksi dilakukan peneliti bersama guru matematika. Kegiatan ini berdiskusi untuk memberi makna, menerangkan , dan menyimpulkan hasil tindakan yang dilakukan. Berdasarkan kesimpulan pada refleksi ini, suatu perencanaan untuk siklus berikutnya dibuat atau tindakan penelitian dianggap cukup.
B.     Tempat dan Waktu Penelitian
1.      Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP N 2 Banyudono yang beralamat dijalan Merdeka, Peni, banyudono, Boyolali. Status sekolah yaitu sekolah negeri sebagai legitimasi kuat untuk sebuah institusi, dengan akreditasi A. Sekolah ini mempunyai sarana dan prasarana yang cukup memadai.
2.      Waktu Penelitian
Berikut rincian penelitian yang akan dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2010/2011.
Tabel 3.1 Rincian Waktu Penelitian
Kegiatan Penelitian
Bulan pelaksanaan tahun 2010/2011
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
1.      Tahap persiapan
a.       Kajian studi pustaka
b.      Pembuatan desain penelitian
c.       Konsultasi rancangan penelitian
d.      Perumusan rancangan penelitian
e.       Ijin penelitian






















Ö




















Ö



















Ö
Ö





















Ö




















Ö












2.      Tahap pelaksanaan
a.       Perencanaan tindakan
b.      Dokumntasi tindakan
c.       Pengamatan kelas
d.      Refleksi
e.       Analisis dan Interpretasi data
f.       Perencanaan hasil kegiatan



























Ö




















Ö
Ö


















Ö
Ö


















Ö
Ö




















Ö




















Ö








3.      Tahap pelaporan
a.       Penyusunan kerangka karangan
b.      Penulisan laporan
c.       Revisi dan editing laporan
d.      Penggandaan dan penjilidan
e.       Penyerahan laporan


































Ö




















Ö




















Ö




















Ö
Ö




















Ö

C.    Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah siswa kelas VIIIC SMP N 2 Banyudono tahun ajaran 2010/2011 yang terdiri dari 33 orang siswa sebagai subyek penelitian yang menerima tindakan. Dengan jumlah siswa laki-laki sebanyak 18 orang dan jumlah siswa perempuan sebanyak 15 orang. Subyek yang melaksanakan tindakan dalam penelitian ini adalah guru matematika kelas VIIIC yang bekerjasama dengan peneliti dan rekan sesama peneliti sebagai observer.
Alasan untuk memilih kelas VIII SMP N 2 Banyudono adalah karena dikelas tersebut memiliki peseta didik yang sopan, pintar, dan disiplin. Karena beberapa pertimbangan tersebut, sehingga kelas itulah yang menjadi obyek penelitian.
D.    Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan berbasis kelas kolaboratif. Kepala sekolah, guru matematika dan penelitian dilibatkan sejak dialog awal sampai evaluasi. Guru matematika dan kepala sekolah bersama peneliti senantiasa berupaya memperoleh hasil yang optimal melalui cara dan prosedur yang dinilai paling efektif. Peneliti senantiasa berupaya memperoleh tindakan yang berulang-ulang dengan revisi untuk meningkatkan keaktifan siswa pada pembelajaran matematika.
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar matematika serta perolehan manfaat yang lebih baik.
   Langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini yaitu:
1.      Dialog awal
Dialog awal dilakukan peneliti, guru matematika, dan kepala sekolah SMP Negeri 2 Banyudono. Dialog awal ini bertujuan untuk mendiskusikan mengenai maksud dan tujuan penelitian untuk memperoleh kesepakatan dalam melakukan penelitian.
Dialog awal dilakukan peneliti, guru matematika dan kepala sekolah pada hari sabtu, 9 Juni 2011 di ruang tamu. Dalam dialog awal mendiskusikan mengenai masalah yang muncul dalam pembelajaran terutama yang berkaitan dengan keaktifan siswa. Dari dialog tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa kurangnya keaktifan siswa selama pembelajaran dikarenakan (1) siswa malu untk bertanya, (2) siswa takut salah ketika hendak menjawab suatu pertanyaan, (3) keaktifan yang dilakukan oleh siswa lebih cenderung pada hal yang negatif seperti berbicara dengan teman sebangku. Selain itu, dalam dialog awal juga telah disepakati kelas yang akan dipakai untuk tindakan kelas yaitu kelas VIIIC.
Dialog yang kedua dilakukan pada tanggal 11 Juni membahas mengernai tanggal pelaksanaan penelitian. Penelitian disepakati dimulai pada tanggal 30 Juni 2011. Dialog ini menyepakati penanganan masalah peningkatan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika melalui straegi Scramble.
2.      Perencanaan Tindakan Pembelajaran
Penyusunan rencana tindakan melibatkan guru matematika sebagai mitra dalam penelitian, yaitu dengan memadukan hasil pengamatan serta masukan tentang persepsi guru terhadap siswa selama proses berlangsung. Langkah-langkah persiapan yang dilakukan untuk mengadakan tindakan terdiri dari.
a.    Mengidentifikasi masalah dan penyebab-penyebabnya
Identifikasi masalah berdasarkan dialog awal antara peneliti, kepala sekolah SMP N 2 Banyudono, dan guru matematika kelas VIII, maka peneliti merumuskan permasalahan siswa terutama yang berhubungan dengan keaktifan selama pembelajaran.
Permasalahan tersebut antara lain yaitu siswa malu dan takut salah ketika hendak menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru atau saat maju ke depan kelas, siswa bersedia untuk aktif hanya jika ditunjuk oleh guru, siswa enggan dan malas untuk mengerjakan soal latihan dan PR yang diberikan guru.
b.    Identifikasi siswa
Identifikasi siswa bertujuan untuk mengetahui siswa yang aktif atau siswa yang pasif dalam proses belajar mengajar melalui rangkaian pengumpulan data.
Proses identifikasi dilakukan untuk menemukan tingkat keaktifan siswa dalam belajar matematika melalui serangkaian kegiatan pengumpulan data. Tindakan yang ditawarkan pada identifikasi siswa ini antara lain:
1)      Diskusi dengan guru kelas VIII sebelum pelaksanaan tindakan kelas, yaitu pada hari kamis tanggal 25 Juli 2011.
2)      Mengacu pada dokumen hasil test yang diberikan pada saat dilaksanakan tindakan pembelajaran.
c.    Perencanaan solusi masalah
Solusi untuk mengatasi masalah peningkatan hasil belajar matematika adalah dengan strategi Scramble.
1)      Perencanaan tindakan putaran I
Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi masalah peningkatan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika adalah menerapkan strategi Scramble. Materi ajar yang disampaikan adalah pokok bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel.
Materi ajar yang diberikan oleh guru sesuai dengan kompetensi dasar. Adapun materi yang dibahas pada putaran I adalah pengertian PLDV dan SPLDV, penyelesaian PLDV akar (penyelesaian) atau bukan akar SPLDV, dan perbedaan antara PLDV dan SLPDV.
Siswa dituntut aktif dalam proses belajar mengajar serta mampu menguasai materi. Siswa memperhatikan materi yang disampaikan guru. Guru membagi siswa dalam kelompok terdiri dari 2-3 siswa. Guru menerangkan cara penggunaan kartu soal dan kartu jawaban. Siswa mengerjakan soal yang terdapat pada kartu soal dan menuliskan uraian penyelesaian pada kartu jawaban. Siswa dituntut untuk saling bekerjasama, mengutarakan ide kepada teman dalam kelompoknya serta saling membantu jika ada siswa yang kurang paham. Guru meminta siswa secara sukarela untuk menjawab soal dipapan tulis. Guru dan siswa bersama-sama membahas hasil diskusi. Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari.
2)      Perencanaan tindakan putaran II
Perencanaan tindakan kelas putara II yang berkaitan dengan strategi pembelajaran Scramble dan tindakan pembelajaran, berdasarkan perencanaan putaran I yang sudah terrevisi. Materi pembelajaran yang akan disampaikan pada putaran II adalah menentukan akar-akar SPLDV dengan menggunakan metode substitusi dan metode eliminasi.
Saat kegiatan pembelajaran berlangsung siswa dituntut aktif dalam proses belajar mengajar serta mampu menguasai materi. Siswa memperhatikan materi yang disampaikan guru. Guru membagi siswa dalam kelompok yang terdiri dari 2-3 siswa. Guru menerangkan cara penggunaan kartu soal dan kartu jawaban. Siswa mengerjakan soal yang terdapat pada kartu soal dan menuliskan uraian penyelesaian pada kartu jawaban. Siswa dituntut untuk saling kerjasama, mengutarakan ide kepada teman dalam kelompoknya serta saling membantu jika ada siswa yang kurang paham. Guru meminta siswa secara sukarela untuk menjawab soal di papan tulis. Guru dan siswa bersama-sama membahas hasil diskusi. Guru memberikan PR. Dalam pembelajaran ini guru berperan membimbing dan mengarahkan tindakan yang akan dilakukan siswa.
3)      Perencanaan tindakan putaran III
Perencanaan tindakan kelas pada putaran III berkaitan dengan strategi pembelajaran Scramble dan tindakan pembelajaran, serta media pembelajaran. Hal ini berdasarkan perencanaan putaran II yang sudah terrevisi.
Materi pembelajaran yang akan disampaikan pada putaran III adalah menentukan akar penyelesaian SPLDV dengan menggunakan metode grafik.
Pembelajaran pada putaran III diawali dengan membahas PR (pekerjaan rumah) dan sedikit mereview materi pada putaran II. Guru melakukan hal yang sama seperti putaran I dan putaran II dengan materi yang berbeda yang telah disiapkan dari rumah. Dalam pembelajaran ini guru berperan membimbing dan mengarahkan tindakan yang akan dilakukan siswa.
3.      Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan penelitian ini dilaksanakan berdasarkan perencanaan. Namun, tindakan tidak mutlak dikendalikan oleh rencana suatu tindakan, karena tindakan yang direncanakan kadang mengandung resiko karena terjadi dalam suasana nyata. Oleh karenanya, rencana tindakan harus bersifat sementara dan fleksibel serta siap dilakukan perubahan sesuai apa yang terjadi dalam proses pelaksanaan dilapangan sesuai usaha menuju perbaikan. Pelaksanaan tindakan ini dilakukan selama dua minggu terbagi dalam tiga putaran.
Pelaksanaan tindakan dilakukan oleh guru matematika yang akan diobservasi, karena guru sebagai pengelola kegiatan belajar mengajar, sehingga yang tampil sebagai faktor utama dalam implementasi tindakan adalah guru tersebut. Sedangkan peneliti bertugas pada saat pelaksanaan tindakan.
4.      Observasi
Observasi adalah upaya merekam segala peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama tindakan yang berlangsung. Observasi itu harus bersifat terbuka pandangan dan pikirannya.
Saat observasi dilakukan observer mengamati proses pembelajaran dan menyimpulkan data mengenai segala sesuatu yang terjadi pada proses pembelajaran tersebut baik yang terjadi pada guru, siswa maupun situasi kelas. Observasi dilakukan untuk mengamati hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan oleh guru atau dikenakan terhadap siswa. Perlu diingat observer hanya mencatat apa yang dilihat dan didengar bukan memberikan penilaian.
Kegiatan ini dilakukan oleh peneliti dengan dibekali pedoman observasi dan catatan lapangan. Observasi yang dilakukan peneliti dengan bekal pedoman observasi yaitu mencatat semua kegiatan guru dari pendahuluan, pengembangan, penerapan, penutup, serta menuliskan keterangan tambahan yang belum terjaring, seperti inisiatif dan reaksi baru dari guru maupun siswa, situasi kelas dan kendala tindakan, serta memberikan kesimpulan dan saran serta umum dari tindakan yang dilakukan. Waktu observasi berdasarkan jadwal pelajaran matematika di kelas VIIIC SMP N 2 Banyudono.
5.      Refleksi
Refleksi dimaksudkan sebagai upaya untuk mengkaji apa yang telah dan belum terjadi, apa yang dihasilkan, kenapa hal tersebut terjadi demikian, dan apa yang perlu dilakukan selanjutnya. Apa yang telah dihasilkan atau belum berhasil dituntaskan dengan tindakan perbaikan yang telah dilakukan. Hasil refleksi digunakan untuk menetapkan langkah lebih lanjut dalam upaya mencapai tujuan penelitian tindakan kelas.
Kegiatan ini dapat dilakukan pada akhir pembelajaran matematika atau dengan dialog atau diskusi secara informal yang dilakukan oleh peneliti, guru matematika kelas VIIIC, dan kepala sekolah SMP N 2 Banyudono untuk menelaah hasil tindakan yang telah dilakukan.
6.      Evaluasi
Evaluasi belajar dan pembelajaran adalah proses untuk menentukan nilai belajar dan pembelajaran yang dilaksanakan, dengan melalui kegiatan penilaian atau pengukuran belajar dan pembelajaran. Evaluasi hasil pengamatan dilakukan untuk mengkaji hasil perencanaan, observasi, dan refleksi penelitian pada setiap pelaksanaan.
E.     Metode Pengumpulan Data
Pengambilan data dilakukan dengan:
1.      Metode Observasi
Observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakn pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Observasi dilaksanakan saat pembelajaran matematika dikelas VIIIC SMP N 2 Banyudono. Observasi diarahkan pada tindakan guru/siswa dalam proses pembelajaran matematika dengan strategi pembelajaran Scramble.
2.      Metode Dokumentasi
Menurut Goezt dan LeCompte (Wiraatmadja, 2008: 121) memaparkan bahwa dokumen yang menyangkut para partisipan penelitian akan menyediakan kerangka bagi data yang mendasar. Termasuk kedalamnya yaitu koleksi dan analisis buku teks, kurikulum, dan pedoman pelaksanaannya, arsip penerimaan murid baru, catatan rapat, catatan tentang siswa, rencana pelajaran dan catatan guru, hasil karya siswa, koleksi arsip guru berupa buku harian, dan catatan peristiwa penting.
3.      Catatan Lapangan
Catatan lapangan digunakan untuk mencatat hal-hal yang terjadi di lapangan sesuai dengan permasalahan penelitian. Berbagai aspek pembelajaran di kelas, suasana kelas, pengelolaan kelas, hubungan interaksi guru dengan siswa, iklim sekolah, leadership kepala sekolah, demikian pula kegiatan lain dari penelitian ini seperti aspek oriental, perencanaan, pelaksanaan, diskusi dan refleksi, semuanya dapat dibaca kembali dari catatan lapangan.
F.     Validitas Data
1.      Definisi Istilah
a.       Keaktifan belajar matematika
Keaktifan belajar matematika adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam proses pembelajaran matematika sehingga akan tercipta situasi belajar yang aktif. Aspek keaktifan yaitu menjawab pertanyaan dari guru, mengajukan pertanyaan, mengemukakan pendapat, kerjasama kelompok saat diskusi, dan mempresentasikan hasil diskusi.
b.      Strategi Pembelajaran Scramble
Scramble adalah strategi pembelajaran yang membutuhkan kerjasama antara anggota kelompok dengan membagi lembar kerja yang berisi pertanyaan pada akhir pertemuan dan harus dijawab oleh siswa. Langkah-langkah strategi pembelajaran Scramble yaitu guru menyajikan materi sesuai topik, guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 2-4 siswa, membagikan kartu soal dengan jawaban yang diacak susunannya dan kartu jawaban kepada masing-masing kelompok, siswa melakukan diskusi kecil dalam kelompoknya untuk mencari solusi dari soal yang diberikan, guru memimpin diskusi besar untuk menganalisa dan mendengarkan pertanggungjawaban setiap kelompok kecil terhadap hasil kerja masing-masing kelompok.
2.      Pengembangan Instrumen
Instrumen penelitian dikembangkan oleh peneliti dengan menjaga validas isi. Berdasarkan cara pelaksanaan dan tujuan, penelitian ini menggunakan observasi. Dalam melakukan observasi menggunakan pedoman observasi yang terbagi menjadi tiga bagian yaitu observasi tindak mengajar yang berkaitan dengan metode yang digunakan guru dalam mengajar, observasi tindak belajar yang berkaitan dengan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika, dan keterangan tambahan yang berkaitan dengan tindak mengajar maupun tindak belajar yang belum terjaring tindak belajar yang belum tercapai.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam ataupun sosial yang diamati. Dalam pengumpulan data digunakan beberapa instrumen antara lain catatan lapangan, pedoman observasi, dan dokumentasi.

G.    Teknik Analisis Data
Model ideal dari pengumpulan data dan analisis adalah yang secara bergantian langsung sejak awal.
Analisis data dilakukan melalui 3 tahap, yaitu reduksi data, paparan data, penyimpulan hasil analisis.
1.      Reduksi data adalah proses penyederhanaan data yang dilakukan melalui seleksi, pengelompokan, dan pengorganisasian data mentah menjadi sebuah informasi bermakna. Kegiatan ini dilakukan secara bertahap untuk memperoleh derajat kepercayaan yang tinggi dalam rangka pemahaman terhadap sekumpulan informasi.
2.      Pemaparan data merupakan suatu upaya menampilkan data secara jelas dan mudah dipahami dalam bentuk paparan naratif, grafik, atau perwujudan lainnya.
3.      Penyimpulan merupakan pengambilan intisari dari sajian data yang telah terorganisasikan dalam bentuk pernyataan atau kalimat yang singkat, padat, dan bermakna. Penarikan kesimpulan dilakukan secara bertahap untuk memperoleh derajat kepercayaan yang tinggi.




 
DAFTAR PUSTAKA
Rahardjito. 2002. Media Pendidikan. Jakarta: Rajawali Press
Suparno. 2009. Manajemen dan Kepemimpinan Transformasional. Jakarta: Rineka Cipta
Sahertian, Piet A. 2000. Supervisi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Syafaruddin. 2002. Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan. Jakarta: Grasindo
Sudjana. 2000. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Rahardjito. 2010. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar